Sunday, September 2, 2012

Tugas 1 : Etika dan Moral


Definisi Etika dan Moral

Pertanyaan : Bila ada wanita, merokok di selasar Kebab Labtek XI ITB, apakah wanita tersebut tidak beretika atau tidak bermoral?

Dari literatur yang telah saya baca, untuk mengerti definisi dari etika, pendekatan pengertian yang paling mudah adalah untuk mengerti arti dari moral terlebih dahulu.

Moral yang dimiliki seseorang berkaitan dengan keyakinan seseorang dalam mengukur nilai. Pandangan mengenai merokok misalnya, berkaitan dengan bagaimana orang tersebut menganggap merokok itu perbuatan yang baik atau buruk, menurut orang itu sendiri. Moral sangat bersifat pribadi, pandangan secara personal, jadi bisa berbeda-beda antara tiap individu manusia itu.

Moral seseorang sangat dipengaruhi oleh adat-istiadat, agama, keluarga, bahkan alasan-alasan rasional yang dapat dipikir dan diterima oleh masing-masing orang. Dalam kasus merokok misalnya, saya secara pribadi, menganggap merokok adalah per buatan yang tidak baik. Moral saya menganggap merokok tidak baik karena
-  secara ekonomi :tidak memberikan keuntungan ekonomi kepada pelakunya
-  secara kesehatan : sumber racun bagi tubuh
-  secara agama : saya yakini sebagai barang haram
- pengalaman bersama seorang perokok selama dua tahun meyakinkan diri saya kalau merokok adalah perbuatan yang buruk
Maka moral saya menganggap bahwa perbuatan merokok tersebut perbuatan yang buruk.

Walau bersifat individu, moral dapat bersifat intern, di dalam satu grup, baik itu keluarga atau kelompok. Secara mudah, moral merupakan keyakinan atas berbagai hal (dapat spesifik) yang dianut oleh individu atau kelompok tersebut.

Lalu bagaimana dengan kasus wanita perokok itu, bila secara moral pribadinya memang menganggap merokok bukan perbuatan yang buruk, maka salahkah baginya untuk merokok di selasar kebab?
Moral wanita tersebut mungkin membenarkan perbuatannya (merokok),  tetapi terdapat etika yang dapat membuat moral wanita tersebut menjadi salah.  Etika yang berlaku di ITB, mengatur bahwa merokok di tempat umum terbuka adalah tidak benar. Jadi, etika dapat saja membenarkan atau menyalahkan moral yang dianut seseorang.

Etika dapat diartikan sebagai standar atau aturan yang telah ditetapkan dan berlaku. Etika dapat bersifat sangat spesifik untuk masing-masing orang (profesi), tempat, waktu, situasi, dsb. Etika berlaku sebagai standar penilaian antara baik dan buruk, maka etika menjadi dasar pertimbangan moral. Bila moral seseorang tidak sesuai dengan etika yang berlaku, maka dapat dikatakan orang tersebut tidak bermoral. Etika pasti ada pada setiap tempat dan setiap waktu, karena etika menjadi dasar perbedaan baik dan buruk.
Lalu apakah kita dapat mengatakan bahwa wanita perokok tersebut tidak bermoral?

Tentu saja kita tidak dapat menjustifikasi hal tersebut begitu saja, Mengapa? Menurut saya, karena terdapat etika pula bagaimana kita harus memberikan penilaian (menjustifikasi) perilaku seseorang. Untuk lebih bermoral dalam menilai perbuatan wanita tersebut, mari kita melihat dari perbagai sudut pandang dan permisalan bagaimana yang baik dan benar secara moral dan etika.

Dari sudut wanita perokok :
Moral dalam dirinya menganggap merokok adalah perbuatan yang benar, dan merokok di selasar kebab adalah perbuatan yang benar. Namun, kemudian dia mengetahui bahwa di lingkungan ITB telah diberlakukan larangan merokok pada tempat umum. Bila wanita tersebut memiliki logika dan moral yang baik, maka ia akan berusaha menyesuaikan moral yang ia anut. Moral wanita tersebut mulai menerima standar (penilaian atas perbuatan merokok ) di luar pikiran atau pertimbangan moralnya sendiri, yaitu standar berupa etika yang berlaku di ITB. Bila ia berusaha menyesuaikan moralnya tersebut, maka ia akan merokok pada lokasi perokok, bukan di selasar kebab, dan akhirnya perbuatannya akan dinilai sebagai perbuatan bermoral yang sesuai dengan etika yang berlaku.

Permisalan kasus : Ada satpam yang “menyemprit” wanita yang merokok di selasar kebab.
Seorang satpam dengan lantang membunyikan peluitnya kepada seorang wanita yang merokok di selasar kebab. Apakah perbuatan satpam tersebut bermoral dan beretika? Dalam diri satpam tersebut, jelas bahwa perbuatan wanita itu tidak sesuai dengan etika dan aturan yang ada di ITB, dan untuk menegur perokok pada tempat umum adalah tugas satpam tersebut. Namun, secara etika yang lain, perokok tersebut seharusnya ditegur dengan cara yang baik pula. Walau moral Satpam ITB telah berlaku sesuai etika yang berlaku (larangan merokok di tempat umum), tetapi cara satpam ITB menegur tidak sesuai dengan etika adat ketimuran yang ada di Indonesia.

Maka, setidaknya terdapat beberapa etika yang mengatur setiap tindakan dari seseorang. Etika tersebut dapat menjadi dasar pertimbangan seseorang untuk menganut sebuah keyakinan (moral) bagi dirinya sendiri, etika juga menjadi standar apakah moral seseorang baik atau buruk. Dengan demikian, etika pasti ada pada setiap waktu dan setiap tempat, sedangkan moral adalah keyakinan seseorang dalam menyesuaikan etika yang berlaku pada setiap waktu dan setiap tempat tersebut.

Etika memang seperti menjadi dasar atau standar seseorang membangun nilai moralnya. Meskipun demikian, nilai etika dapat sangat relatif. Relatifnya nilai etika bergantung pada tempat, agama, adat-istiadat, situasi tertentu, bahkan bergantung pada sebuah profesi. Contoh seorang satpam tadi misalnya, mungkin secara etika yang berlaku di ITB menyatakan merokok di tempat umum adalah salah, tetapi bisa saja satpam itu sendiri adalah seorang perokok, tentunya menganggap merokok adalah perbuatan yang tidak buruk. Meskipun demikian, nilai etika profesi yang berlaku baginya sebagai satpam, harus mengalahkan moral dalam dirinya sendiri, yaitu untuk menegur perokok di tempat umum. Dengan demikian, sangat jelas, etika harus dapat “diutamakan” daripada nilai moral yang dianut secara individu. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menjaga hubungan antar individu atau sebuah sistem sosial, atau sistem profesi dapat berjalan sesuai maksud dari sistem atau lingkungan tersebut. Untuk beberapa profesi, terdapat beberapa etika yang sangat mendetail dan memerlukan perhatian. Beberapa etika tersebut dirangkum dalam sebuah kode etik. Seorang profesional menggunakan kode etika ini untuk menunjukkan integritasnya dalam melaksanakan pekerjaannya. Integritas seseorang dapat dinilai berdasarkan konsistensinya dalam memegang nilai moral dan etika yang ia anut. Dalam percontohan satpam yang menyemprit wanita perokok tersebut, tanpa melihat nilai moral yang ada dalamdiri  satpam, maka dapat dikatakan satpam tersebut bekerja dengan beretika, sesuai profesinya.

Kemudian, bila ada wanita, merokok di selasar Kebab Labtek XI ITB, apakah wanita tersebut tidak beretika atau tidak bermoral? Secara hati-hati, saya katakan bahwa moral wanita tersebut tidak sesuai dengan etika yang berlaku di lingkungan ITB. Semoga jawaban saya ini tidak menyakiti hati wanita tersebut, karena bila hal itu terjadi mungkin pernyataan saya ini tidak sesuai dengan etika penulisan argumen yang berlaku di Indonesia. J

Literatur :
Ianinska S., Claude J., Zamor G., 2006. Morals, Ethics, and Integrity: How Codes of Conduct
Contribute to Ethical Adult Education Practice. Public Organiz Rev Volume 6, halaman 3-20.
Mackenroth K.S., Janke APLC., Ethics, Moral, And The Professionals.