Definisi
Etika dan Moral
Pertanyaan : Bila ada
wanita, merokok di selasar Kebab Labtek XI ITB, apakah wanita tersebut tidak
beretika atau tidak bermoral?
Dari literatur yang
telah saya baca, untuk mengerti definisi dari etika, pendekatan pengertian yang
paling mudah adalah untuk mengerti arti dari moral terlebih dahulu.
Moral yang dimiliki
seseorang berkaitan dengan keyakinan seseorang dalam mengukur nilai. Pandangan
mengenai merokok misalnya, berkaitan dengan bagaimana orang tersebut menganggap
merokok itu perbuatan yang baik atau buruk, menurut orang itu sendiri. Moral
sangat bersifat pribadi, pandangan secara personal, jadi bisa berbeda-beda
antara tiap individu manusia itu.
Moral seseorang sangat
dipengaruhi oleh adat-istiadat, agama, keluarga, bahkan alasan-alasan rasional
yang dapat dipikir dan diterima oleh masing-masing orang. Dalam kasus merokok
misalnya, saya secara pribadi, menganggap merokok adalah per buatan yang tidak
baik. Moral saya menganggap merokok tidak baik karena
- secara ekonomi :tidak memberikan keuntungan
ekonomi kepada pelakunya
- secara kesehatan : sumber racun bagi tubuh
- secara agama : saya yakini sebagai barang
haram
- pengalaman bersama
seorang perokok selama dua tahun meyakinkan diri saya kalau merokok adalah
perbuatan yang buruk
Maka moral saya
menganggap bahwa perbuatan merokok tersebut perbuatan yang buruk.
Walau bersifat
individu, moral dapat bersifat intern, di dalam satu grup, baik itu keluarga
atau kelompok. Secara mudah, moral merupakan keyakinan atas berbagai hal (dapat spesifik) yang dianut oleh
individu atau kelompok tersebut.
Lalu bagaimana dengan
kasus wanita perokok itu, bila secara moral pribadinya memang menganggap
merokok bukan perbuatan yang buruk, maka salahkah baginya untuk merokok di selasar
kebab?
Moral wanita tersebut
mungkin membenarkan perbuatannya (merokok), tetapi terdapat etika yang dapat membuat moral
wanita tersebut menjadi salah. Etika
yang berlaku di ITB, mengatur bahwa merokok di tempat umum terbuka adalah tidak
benar. Jadi, etika dapat saja membenarkan atau menyalahkan moral yang dianut
seseorang.
Etika dapat diartikan
sebagai standar atau aturan yang telah ditetapkan dan berlaku. Etika dapat
bersifat sangat spesifik untuk masing-masing orang (profesi), tempat, waktu, situasi,
dsb. Etika berlaku sebagai standar penilaian antara baik dan buruk, maka etika
menjadi dasar pertimbangan moral. Bila moral seseorang tidak sesuai dengan
etika yang berlaku, maka dapat dikatakan orang tersebut tidak bermoral. Etika
pasti ada pada setiap tempat dan setiap waktu, karena etika menjadi dasar
perbedaan baik dan buruk.
Lalu apakah kita dapat
mengatakan bahwa wanita perokok tersebut tidak bermoral?
Tentu saja kita tidak
dapat menjustifikasi hal tersebut begitu saja, Mengapa? Menurut saya, karena
terdapat etika pula bagaimana kita harus memberikan penilaian (menjustifikasi)
perilaku seseorang. Untuk lebih bermoral dalam menilai perbuatan wanita
tersebut, mari kita melihat dari perbagai sudut pandang dan permisalan
bagaimana yang baik dan benar secara moral dan etika.
Dari sudut wanita
perokok :
Moral dalam dirinya
menganggap merokok adalah perbuatan yang benar, dan merokok di selasar kebab
adalah perbuatan yang benar. Namun, kemudian dia mengetahui bahwa di lingkungan
ITB telah diberlakukan larangan merokok pada tempat umum. Bila wanita tersebut
memiliki logika dan moral yang baik, maka ia akan berusaha menyesuaikan moral
yang ia anut. Moral wanita tersebut mulai menerima standar (penilaian atas
perbuatan merokok ) di luar pikiran atau pertimbangan moralnya sendiri, yaitu
standar berupa etika yang berlaku di ITB. Bila ia berusaha menyesuaikan
moralnya tersebut, maka ia akan merokok pada lokasi perokok, bukan di selasar
kebab, dan akhirnya perbuatannya akan dinilai sebagai perbuatan bermoral yang
sesuai dengan etika yang berlaku.
Permisalan kasus : Ada
satpam yang “menyemprit” wanita yang merokok di selasar kebab.
Seorang satpam dengan
lantang membunyikan peluitnya kepada seorang wanita yang merokok di selasar
kebab. Apakah perbuatan satpam tersebut bermoral dan beretika? Dalam diri
satpam tersebut, jelas bahwa perbuatan wanita itu tidak sesuai dengan etika dan
aturan yang ada di ITB, dan untuk menegur perokok pada tempat umum adalah tugas
satpam tersebut. Namun, secara etika yang lain, perokok tersebut seharusnya
ditegur dengan cara yang baik pula. Walau moral Satpam ITB telah berlaku sesuai
etika yang berlaku (larangan merokok di tempat umum), tetapi cara satpam ITB
menegur tidak sesuai dengan etika adat ketimuran yang ada di Indonesia.
Maka, setidaknya
terdapat beberapa etika yang mengatur setiap tindakan dari seseorang. Etika
tersebut dapat menjadi dasar pertimbangan seseorang untuk menganut sebuah
keyakinan (moral) bagi dirinya sendiri, etika juga menjadi standar apakah moral
seseorang baik atau buruk. Dengan demikian, etika pasti ada pada setiap waktu
dan setiap tempat, sedangkan moral adalah keyakinan seseorang dalam
menyesuaikan etika yang berlaku pada setiap waktu dan setiap tempat tersebut.
Etika memang seperti
menjadi dasar atau standar seseorang membangun nilai moralnya. Meskipun
demikian, nilai etika dapat sangat relatif. Relatifnya nilai etika bergantung
pada tempat, agama, adat-istiadat, situasi tertentu, bahkan bergantung pada
sebuah profesi. Contoh seorang satpam tadi misalnya, mungkin secara etika yang
berlaku di ITB menyatakan merokok di tempat umum adalah salah, tetapi bisa saja
satpam itu sendiri adalah seorang perokok, tentunya menganggap merokok adalah
perbuatan yang tidak buruk. Meskipun demikian, nilai etika profesi yang berlaku
baginya sebagai satpam, harus mengalahkan moral dalam dirinya sendiri, yaitu
untuk menegur perokok di tempat umum. Dengan demikian, sangat jelas, etika
harus dapat “diutamakan” daripada nilai moral yang dianut secara individu. Hal
tersebut perlu dilakukan untuk menjaga hubungan antar individu atau sebuah
sistem sosial, atau sistem profesi dapat berjalan sesuai maksud dari sistem
atau lingkungan tersebut. Untuk beberapa profesi, terdapat beberapa etika yang
sangat mendetail dan memerlukan perhatian. Beberapa etika tersebut dirangkum
dalam sebuah kode etik. Seorang profesional menggunakan kode etika ini untuk
menunjukkan integritasnya dalam melaksanakan pekerjaannya. Integritas seseorang
dapat dinilai berdasarkan konsistensinya dalam memegang nilai moral dan etika
yang ia anut. Dalam percontohan satpam yang menyemprit wanita perokok tersebut,
tanpa melihat nilai moral yang ada dalamdiri
satpam, maka dapat dikatakan satpam tersebut bekerja dengan beretika,
sesuai profesinya.
Kemudian, bila ada
wanita, merokok di selasar Kebab Labtek XI ITB, apakah wanita tersebut tidak
beretika atau tidak bermoral? Secara hati-hati, saya katakan bahwa moral wanita
tersebut tidak sesuai dengan etika yang berlaku di lingkungan ITB. Semoga
jawaban saya ini tidak menyakiti hati wanita tersebut, karena bila hal itu
terjadi mungkin pernyataan saya ini tidak sesuai dengan etika penulisan argumen
yang berlaku di Indonesia. J
Literatur :
Ianinska S., Claude J., Zamor G.,
2006. Morals, Ethics, and Integrity: How Codes of Conduct
Contribute to Ethical
Adult Education Practice. Public Organiz Rev Volume 6, halaman 3-20.
Mackenroth K.S., Janke
APLC., Ethics, Moral, And The Professionals.